Senin, 29 Juni 2009

PTK mata pelajaran Matematika dengan metode kooperative model STAD

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Pembelajaran matematika di SD mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam upaya mencapai tujuan pendidikan matematika yang telah ditetapkan. Tujuan pembelajaran matematika di SD dalam, DEPDIKNAS (2006:417) adalah agar peserta didik memiliki kemampuan :
(1) memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antara konsep dan mengaplikasikan konsep logaritma, secara luas, akurat, efisien dan tepat dalam pemecahan masalah, (2) menggunakan penalaran pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika, (3) memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh, (4) mengomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram atau media lain untuk menjelaskan keadaan atau masalah, (5) memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah.

Dari tujuan pembelajaram matematika di atas menuntut siswa berfikir kritis dan kreatif. Untuk mewujudkan tujuan pembelajaran matematika, hendaknya guru berusaha melibatkan siswa secara aktif dalam kegiatan pembelajaran. Hal itu dapat dilakuakan guru dengan menggunakan berbagai model dalam pembelajaran agar siswa tidak merasa jenuh dalam menerima pelajaran yang disampaikan.
Pembelajaran pecahan sebagai materi dalam matematika sekolah dasar, pecahan telah dikenal dan diakrapi oleh siswa sejak masa kanak-kanak. Bila ditelaah materi yang menyangkut pecahan nampak bahwa setiap kelas mempelajari pecahan. Ini merupakan bahwa pecahan merupakan salah satu materi pembelajaran yang perlu mendapat perhatian, agar dapat dikuasai dengan baik oleh siswa.
Berdasarkan observasi dan studi awal pada kelas V SD N 17 Air Dingin, terlihat siswa masih kesulitan mengerjakan soal-soal tentang menjumlahkan berbagai bentuk pecahan . Kenyataan dilapanagan menunjukan bahwa pembelajaran pecahan masih memprihatinkan. Hal ini dibuktikan dan hasil penelitian Djadir (dalam Martianti 2004: 2) mengatakan 88,8% guru berpendapat bahwa siswa sekolah dasar mengalami kesulitan mengerjakan pecahan. Demikian pula Prajitno (dalam Martianti 2004: 2) menemukan bahwa siswa tidak mampu dan bingung dalam menjumlahkan berbagai bentuk pecahan.
Kesulitan-kesulitan yang dihadapi siswa, selain dari faktor siswa sendiri, faktor guru juga menentukan kesulitan yang dialami siswa tersebut. Kemungkinan penyebabnya lain adalah cara guru menyampaikan materi kurang melibatkan siswa dengan benda kongkrit atau alat peraga, pendekatan atau metode yang digunakan kurang tepat, dalam kegiatan pembelajaran guru lebih banyak aktif dari pada siswa dan yang paling utama guru mencapai tujuan indikator tanpa memperhatikan pemahaman siswa tentang materi yang sedang diajarkan.
Dari fenomena yang diperoleh di lapangan, maka peneliti menganggap bahwa hal ini masalah yang perlu diatasi, untuk itu perlu dikembangkan suatu pembelajaran yang lebih bermakna. Agar pembelajaran lebih bermakna, maka perlu diciptakan lingkungan yang alamiah yang dekat dengan dunia nyata. Mengkongkritkan materi yang abstrak akan memberikan kesempatan bagi siswa untuk dapat mengembangkan kemampuanya guna menciptakan pembelajaran yang aktif dan menyenangkan serta bermakna bagi siswa.
Salah satu pendekatan pembelajaran yang dapat membuat pembelajaran menjadi aktif, menyenangkan serta bermakna yaitu pembelajaran melalui kooperatif. Slavin (dalam Nur 2006:11) mengemukakan bahwa dalam belajar koopertif siswa belajar bersama, saling menyumbangkan pemikiran dan bertanggung jawab terhadap pencapaian hasil belajar secara individual maupun kelompok.
Dalam bekerja kelompok terdapat berbagai macam model pembelajaran kooperatif, salah satuya adalah kooperatif model Student Teams Achiviement Divisions (STAD), pembelajaran STAD ini juga melihat hasil pembelajaran tidak tergantung pada usia siswa, mata pelajaran, atau aktivitas belajar.
Menurut Slavin (dalam Nur, 2006:5) mengemukakan pembelajaran kooperatif model STAD siswa ditempatkan dalam kelompok belajar beranggotakan empat atau lima orang siswa yang merupakan campuran dari kemampuan yang berbeda, sehingga dalam setiap kelompok terdapat siswa yang berprestasi tinggi, sedang, dan rendah.
Pelaksanaan kegiatan pembelajaran dengan tipe STAD ini terdiri dari 7 tahap (dalam Nur, 2006:51) antara lain : “(1) persiapan pembelajaran, (2) penyajian materi, (3) kegiatan belajar kelompok, (4) pemeriksaan terhadap hasil kelompok, (5) siswa mengerjakan tes secara individual, (6) pemeriksaan hasil tes, (7) penghargaan kelompok”.
Adapun kelebihan dari model STAD menurut Noornia (dalam Nur, 2006:26) yakni:
1) dapat menyebabkan unsur-unsur psikologi siswa menjadi terangsang dan menjadi lebih aktif, 2) dapat berkomunikasi dengan bahasa yang lebih sederhana, 3) meningkatkan kerja keras siswa, lebih giat dan lebih termotivasi, 4) meningkatkan kecakapan individu maupun kelompok dalam memecahkan masalah, 5) menghilangkan rasa buruk sangka pada teman sebayanya , 6) adanya rasa kebersamaan dalam kelompok, 7) saat berdiskusi ingatan dari siswa lebih aktif, lebih bersemangat dan berani mengemukakan pendapat, 8) meningkatkan komitmen, 9) siswa yang berprestasi lebih mementingkan orang lain, tidak bersifat kompetitif, dan tidak memiliki rasa dendam, 10) siswa menerapkanya dalam menyelesaikan tugas-tugas yang kompleks.

Manfaat model STAD ini menurut Slavin (dalam Nur, 2006:26) "menimbulkan motivasi siswa karena adanya tuntutan untuk menyelesaikan tugas". Salah satu kebutuhan yang menyebabkan seseorang mempunyai motivasi mengaktualisasikan dirinya adalah kebutuhan untuk diterima dalam suatu masyarakat atau kelompok. Demikian juga dengan siswa, mereka akan berusaha untuk mengaktualisasikan dirinya, misalnya melakukan kerja keras yang hasilnya dapat memberikan sumbangan bagi kelompoknya
Dengan melihat kelebihan dan manfaat kooperatif model STAD di atas dan kendala yang ditemui di lapangan pada pembelajaran pecahan tentang menjumlahkan berbagai bentuk pecahan bisa diterapkan. Untuk itu penulis tertarik melakukan penelitian tentang Pendekatan kooperatif tipe STAD untuk meningkatkan pemahaman siswa tentang penjumlahan berbagai bentuk pecahan dalam pembelajaran matematika di kelas V SD N 17 Air dingin Kota Sawahlunto.

B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan uraian latar belakang yang telah dikemukakan pada bagian terdahulu, masalah umum penelitian ini dirumuskan sebagai berikut : “bagaimanakah penggunaan pendekatan kooperatif tipe STAD untuk meningkatkan pemahaman siswa tentang penjumlahan berbagai bntuk pecahan dalam pembelajaran matematika di kelas V SD N 17 air dingin KOTA Sawahlunto.
Secara khusus rumusan masalah tersebut dapat penulis rinci sebagai berikut :
1. Bagaimanakah Penggunaan pendekatan kooperatif tipe STAD untuk meningkatkan pemahaman siswa tentang penjumlahan berbagai bentuk pecahan dalam pembelajaran matematika di kelas V SD N 17 Air Dingin kota Sawahlunto pada tahap awal ?
2. Bagaimanakah penggunaan pendekatan kooperatif tipe STAD untuk meningkatkan pemahaman siswa tentan penjumlahan berbagai bentuk pecahan dalam pembelajaran matematika di kelas V SD N 17 Air Dingin kota Sawahlunto pada tahap inti ?
3. Bagaimanakah penggunaan pendekatan kooperatif tipe STAD untuk meningkatkan pemahan siswa tentang penjumlahan berbagai bentuk pecahan dalam pembelajaran matematika di kelas V SD N 17 Air Dingin kota Sawahlunto pada tahap akhir ?

C. TUJUAN PENELITIAN
Secara umum, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menggambarkan pembelajaran menjumlahkan berbagai bentuk pecahan melalui kooperatif model STAD di kelas V SD N 17 Air Dingin kota Sawahlunto. Secara khusus, penelitian tindakan ini bertujuan untuk mendeskripsikan :
1. Mendeskripsikan bentuk rencana pembelajaran menjumlahkan berbagai bentuk pecahan melalui kooperatif model STAD di kelas V SD N 17 Air Dingin kota Sawahlunto.
2. Mendiskripsikan pelaksanaan pembelajaran menjumlahkan berbagai bentuk pecahan melalui kooperatif model STAD di kelas V SD N 17 Air Dingin kota Sawahlunto.
3. Mengetahui hasil pembelajaran menjumlahkan berbagai bentuk pecahan melalui kooperatif model STAD di kelas V SD N 17 Air Dingin kota Sawahlunto.

D. MANFAAAT PENELITIAN
Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat untuk kepentingan teoritis dan praktis, yaitu :
1. untuk kepentingan teoritis hasil penelitian ini dapat menambah dan memperkuat proses pembelajaran matematika khususnya menjumlahkan brbagai bentuk pecahan ..
2. untuk kepentingan praktis, hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai umpan balik dalam memperbaiki kegiatan pembelajaran menjumlahkan pecahan campuran di SD. Untuk kepentingan para praktis lainnya diharapkan dapat menambah wawasan peneliti dan pembaca dalam menerapkan suatu teori pembelajaran menjumlahkan berbagai bentuk pecahan .

BAB II
KAJIAN TEORI DAN KERANGKA TEORI

A. KAJIAN TEORI
1. Pembelajaran Kooperatif Model STAD
a. Pengertian Kooperatif Model STAD.
Pembelajaran kooperatif model STAD siswa dikelompokan dalam kelompok kecil dimana setiap anggota kelompok akan saling belajar dan membelajarkan. Fokus yang ditekankan adalah keberhasilan seorang anggota kelompok akan berpengaruh terhadap keberhasialan kelompoknya.
Slavin (dalam Nur, 2006:51) Mengemukakan model STAD adalah salah satu model pembelajaran yang sedehana. Dalam STAD siswa ditempatkan dalam kelompok belajar beranggotakan empat atau lima orang yang merupakan campuran menurut tingkat kinerja dan jenis kelamin. Sehingga model belajar tersebut dapat digunakan oleh guru-guru yang baru menggunakan model kooperatif. Guru menyajikan pelajaran dan kemudian siswa bekerja didalam kelompok mereka untuk memastikan bahwa setiap kelompok telah menguasai pelajaran tersebut. Akhirnya semua siswa diberi tes tentang materi menjumlahkan berbagai bentuk pecahan ..
Pada saat diadakan tes mereka tidak boleh saling membantu. Skor siswa dibandingkan antara skor sebelumnya dengan skor yang baru di peroleh. Skor tiap anggota kelompok ini dijumlahkan untuk mendapatkan skor kelompok dan kelompok yang mencapai kriteria tertentu dapat diberi sertifikat atau penghargaan yang lain.
Untuk kerja kelompok guru memberikan lembaran kerja siswa (LKS) atau materi belajar kepada setiap kelompok. Untuk menyelesaikan tugas kelompok siswa mengerjakan secara kelompok kemudian saling mencocokan jawabanya atau memeriksa ketepatan jawabanya dengan jawaban teman sekelompok. Bila ada siswa yang mengemukakan pertanyaan, teman sekelompoknya bertanggung jawab untuk menjawab atau menyelesaikannya, sebelum mengajukan pertanyaan kepada guru.
b. Tahap-Tahap Belajar Kooperatif Model STAD
Kegiatan pembelajaran dengan tipe STAD ini terdiri dari 7 tahap (dalam Nur, 2006:51) antara lain : "(1) persiapan pembelajaran, (2) penyajian materi, (3) kegiatan belajar kelompok, (4) pemeriksaan terhadap hasil kelompok, (5) siswa mengerjakan tes secara individual, (6) pemeriksaan hasil tes, (7) penghargaan kelompok".
Berikut ini akan dirincikan dari masing-masing tahap tersebut sebagai berikut:
1) Persiapan Pembelajaran
Sebelum menyajikan materi pelajaran, dibuat lembar kegiatan siswa (LKS) dan lembar jawaban. Kemudian menempatkan siswa dalam kelompok dengan berimbang. Serta menentukan skor dasar siswa.
2) Penyajian materi
Sebelum menyajikan materi, guru dapat memulai dengan menjelaskan tujuan pelajaran, memberikan motivasi untuk berkooperatif, serta menggali pengetahuan. Selanjutnya guru menyampaikan materi baru secara verbal.
3) Kegiatan Belajar kelompok.
Siswa mendiskusikan tugas yang diberikan Guru. Dalam kegiatan belajar kelompok digunakan LKS untuk mencatat hasil diskusi.
4) Pemeriksaan Terhadap Hasil Kegiatan Kelompok
Pemeriksaan terhadap hasil kegiatan kelompok dilakukan dengan mempresentasikan hasil kegiatan kelompok. Pada tahap ini pula dilakukan pemeriksaan hasil kegiatan kelompok dengan memberikan kunci jawaban. Setiap kelompok memeriksa sendiri hasil pekerjaannya serta memperbaiki jika masih terdapat kesalahan-kesalahan.
5) Siswa mengerjakan soal-soal tes secara individual.
Pada tahap ini siswa menjawab soal tes secara individual sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya.
6) Pemeriksaan hasil tes
Pemeriksaan hasil tes dilakukan oleh guru, dengan membuat skor peningkatan setiap individu, dan kemudian dimasukkan menjadi skor kelompok
7) Penghargaan kelompok.
Guru memberikan penghargaan kepada kelompok yang berprestasi, Setelah diperoleh hasil tes, kemudian dihitung skor peningkatan individu berdasarkan selisih perolehan skor dasar dengan skor tes terakhir dengan cara sebagai berikut:
Tabel: 2.2 Kriteria poin perbaikan
Apabila suatu skor kuis adalah…… Seorang siswa mendapat
Memperoleh nilai sempurna tidak memandang 30 poin perbaikan
berapun besar skor dasar
Lebih dari sepuluh poin diatas skor dasar 30 poin perbaikan
Skor dasar sampai sepuluh poin diatas skor dasar 20 poin perbaikan
Sepuluh poin dibawah sampai satu poin dibawah 10 poin perbaikan
skor dasar
Lebih dari sepuluh poin dibawah skor perbaikan 0 poin dasar

Pemberian penghargaan kepada kelompok yang memperoleh poin perkembangan kelompok tertinggi ditentukan dengan rumus sebagai berikut:
N = Jumlah total perkembangan anggota
Jumlah anggota kelompok yang ada
Berdasarkan poin perkembangan yang diperoleh terdapat tiga tingkatan penghargaan yang diberikan berdasarkan skor tes rata-rata dibawah ini :
Tabel: 2.3 Tingkat Penghargaan
Kriteria (Rata-rata Tim) Penghargaan
15 TIM TERBAIK
20 TIM HEBAT
25 TIM SUPER
2. Pembelajaran Matematika
a. Pengertian Matematika
Beberapa ahli yang dikutip oleh Karso (1999:139-140) menjelaskan pengertian matematika sebagai berikut :
1. Andi Hakim Nasution
Istilah matematika berasal dari bahasa Yunani yaitu Mathein atau Mathenaen yang artinya mempelajari kata itu erat kaitannya dengan kata Sansekerta yaitu Medha atau Widya yang berarti kepandaian, ketahuan, atau intelegensi.
2. Ruseffendi
Mengatakan bahvva matematika terorganisasi dari unsur yang tidak terdifinisi, karena itulah matematika juga sering disebut dengan ilmu deduktif
3. Johson dan Rissing
Menyatakan bahwa, matematika adalah pola berfikir, pola mengorganisasikan pembuktian yang logik, matematika itu adalah bahasa yang menggunakan istilah yang mendifinisikan dengan cermat jelas dan akurat.
4. Reys
Menyatakan bahwa matematika adalah telaahan tentang pola dan hubungan, Suatu jalan atau pola berfikir, suatu seni, suatu bahasa dan suatu alat.

5. Kline
Mengatakan bahwa matematika itu bukan pengetahuan menyendiri yang dapat sempurnaa karena dirinya sendiri, tetapi keberadaannya dapat berguna untuk membantu manusia dalam memahami dan menguasai pemahaman sosial, ekonomi dan alam
Berdasarkan beberapa pcngertian yang dikemukakan para ahli tersebut maka dapat disimpulkan bahwa matematika merupakan suatu ilmu yang berhubungan dengan penelaahan bentuk-bentuk atau struktur-struktur yang abstrak.
b. Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar
Pembelajaran matematika di SD merupakan salah satu kajian yang selalu menarik untuk dikemukakan karena adanya perbedaan karakteristik khususnya antara hakekat anak dengan hakekat matematika.
Pada anak usia SD,anak sedang mengalami perkembangan tingkat berfikirnya, hal ini dikarenakan tahap berfikir anak masih belum formal.
Mengingat adanya perbedaan karakteristik tersebut, maka diperlukan adanya kemampuan khusus dari seorang guru untuk menjembatani antara dunia anak yang belum berfikir secara deduktif untuk mengerti dunia matematika.
3. Materi Pecahan
a. Pengertian Pecahan
Pecahan adalah bagian dari bilangan rasional yang dapat di tulis dalam bentuk dengan a dan b bilangan bulat dan b tidak sama dengan nol. Secara simbolik pecahan dapat dinyatakan sebagai salah satu : (1) pecahan biasa, (2) pecahan desimal,(3) pecahan persen, (4) pecahan campuran.
b. Mengenal Konsep Pecahan
Kegiatan mengenal konsep pecahan akan lebih berarti denga di dahului dengan soal cerita yang menggunakan obyek buah, misalnya apel, sawo, jeruk atau kue misal apem dll. Peraga selanjutnya berupa bangun datar seperti persegi, lingkaran yang nantinya akan sangat menbantu dalam pemahaman konsep.
Pecahan dapat di peragakan dengan melipat kertas berbentuk lingkaran atau persegi sehingga lipatannya tepat menutupi bagian yang lainya. Selanjutnya bagian yang di lipat di buka dan di arsir sesuai bagian yang di kehendaki, sehingga di dapat gambar sebagai berikut :

Pecahan dibaca setengah atau satu per dua atau seperdua. “1” disebut pembilang yaitu merupakan daerah pengambilan. “2 “ disebut penyebut yaitu merupakan 2 bagian yanga sama dari keseluruhan.

Selain mengenalkan pecahan dengan melipat kertas, peragaan dapat pula di lakukan denga pita atau tongkat yang di potong dengan pendekatan pengukuran panjang, yang dapat pula mengenalkan letak pecahan pada garis bilangan.
c. Pecahan Senilai
Pecahan senilai di sebut juga pecah yang ekivalen. Untuk menentukannya dapat di lakukan cara sebagai berikut :
Kita akan menunjukan bahwa dengan menggunakan 3 kertas persegi panjang. Ambil kertas dan dilipat menjadi 2 bagian yang sama sehingga di dapat . Kemudian ambil lagi kertas dilipat menjadi 2 bagian yang sama dan di lipat lagi menjadi 2 di dapat . Gambarnya sebagai berikut:
a) kertas ke-1
di lipat menjadi 2 bagian yang sama besar
Daerah yang diarsir .
b) kertas ke-2
Daerah yang di arsir , dari lipatan yang pertama dilipat lagi menjadi 2 bagian yang sama besar.

c) kertas ke-3
yang di arsir .dari lipatan yang ke-2 di lipat lagi menjadi 2 bagian yang sama besar.
Dari gambar jelas bahwa .
Perlu pula di tunjukan pada siswa bahwa pecahan senilai dapat pula di manfaatkan untuk mempelajari
a) mengurutkan pecahan
b) penjumlahan dan pengurangan pecahan
d. Membandingkan dan Mengurutkan pecahan
Saat anak-anak belajar membandingkan dan mengurutkan pecahan mereka memerlukan pengalaman-pengalaman sehingga menghasilkan temuan-temuan khusus. Contohnya sebagai berikut :
peragaan berikut menggunakan bangun geometri. Bangun geometri dapat di manfaatkan untuk membandingkan dan mengurutkan pecahan biasa dan pecahan campuran. Bahan yang digunakan harus mudah di warnai, di potong sehingga dapat jelas di amati.


Yang utuh sudah sama sehingga tinggal membandingkan yang tidak utuh. Dari gambar terlihat bahwa sehingga
e. Mengubah bentuk pecahan satu ke bentuk pecahan yang lain.
Mengubah pecahan biasa ke bentuk desimal.
Untuk mengubah pecahan biasa ke bentuk pecahan desimal di cari dulu pecahan yang senilai yang penyebutnya berbasis sepuluh,seratus,seribu.
Contoh :
1. (dibaca nol koma lima)
2. (dibaca nol koma dua puluh lima )
Mengubah pecahan biasa menjadi persen atau sebaliknya
Persen artinya perseratus, sehingga pecahan yang penyebutnya seratus dapat diartikan persen.persen di lambangkan dengan %. Sehingga apabila penyebutnya belum perseratus di ubah dulu ke dalam bentuk perseratus.


Sebaliknya untuk mengubah pecahan dari bentuk persen menjadi bentuk biasa, dapat di ubah dari bentuk persen ke bentuk perseratus yang kemudian di sederhanakan.


Catatan : apabila siswa sudah mengenal FPB dapat diterpkan penggunaanya untuk menyederhanakan pecahan.
Mengubah pecahan sederhana menjadi pecahan campuran atau sebaliknya.
Mengubah pecahan biasa ( yang pembilangnya lebih dari penyebutnya) menjadi pecahan campuran dalakukan dengan cara peragaan dan hasil pembagian sehingga didapat hasil bagi dan sisa.
Contoh :
Ubahlah pecahan ke dalam pecahan campuran.
Jawab.
Dengan peraga

Dengan hasil bagi
(14 : 5 di dapat 2 sisa 4, sehingga )
Secara umum dapat di tulis dengan a > b.
f. Menjumlahkan pecahan
a. penjumlahan pecahan dengan penyebut sama
penjumlahan dengan penyebut sama dapat di lakukan dengan menjumlah pembilang sedangkan penyebutnya tatap.
b. penjumlahan pecahan dengan penyebut yang tidak sama
penjumlahan dapat di lakukan dengan menyamakan terlebih terdahulu penyebutnya, kemudian pembilang di kalikan dengan nilai yang di gunakan untuk menyamakan penyebut
4. Penilaian
a. Pengertian
Penilaian merupakan alat untuk mengukur kemampuan peserta didik dalam menerima pembelajaran yang telah dilaksanakan oleh guru. Menurut Farida (2005:79) mengemukakan “ Penilaian merupakan suatu proses kegiatan untuk memperoleh, menganalisis data tentang proses dan hasil belajar siswa”. Hal ini dilakukan untuk mengetahui seberapa jauh peserta didik menerima meteri pelajran yang disampaikan oleh guru.
Sedangkan menurut Ngalim (2006:3) “Penilaian adalah suatu proses merencanakan, memperoleh, dan menyediakan informasi yang sangat diperlukan untuk membuat alternatif-alternatif keputusan”. Penilaian merupakan suatu proses yang disengaja direncanakan untuk memperoleh informasi atau data berdasarkan data tersebut dapat diketahui kemampuan peserta didik.
Nana (2004:3) mengemukakan bahwa penilaian adalah proses memberikan atau menentukan nilai terhadap hasil belajar peserta didik berdasarkan suatu kriteria tertentu. Penilaian merupakan suatu rangkaian proses pemberian nilai terhadap proses pembelajaran peserta didik dan di ukur berdasarkan kriteria tertentu. Kriteria tersebut ada yang berdasarkan PAN (Patokan Acuan Noma) PAB (Patokan Acuan Patokan). Patokan Acuan Norma yaitu penilaian yang diacukan kepada rata-rata kelompoknya, sedangkan Patokan Acuan Patokan yaitu penilaian yang diacukan kepada tujuan pembelajaran yang harus dikuasai peserta didik.
Akhmad (2008:1) mengemukakan bahwa penilaian atau assessment adalah penerapan berbagai cara dan penggunaan alat penilaian untuk memperoleh informasi tentang sejauh mana hasil belajar peserta didik atau ketercapaian kompetensi (rangkaian kemampuan) peserta didik. Penilaian merupakan cara untuk memperoleh informasi tentang hasil belajar yang telah dilakukan guru dengan mengunakan alat penilaian. Alat penilaian tersebut bias berupa tes tertulis dan per perbuatan dan skala sikap.
“Penilaian adalah kegiatan pengumpulan informasi tentang proses dan hasil belajar untuk mengukur tingkat penguasaan peserta didik terhadap kompetensi yang telah diajarkan” (Nasar, 2006:59). Dari pendapat tersebut dapat dijelaskan bahwa penilaian merupakan kegiatan mengumpulkan informasi tentang proses pembelajaran yang telah dilaksanakan. Penilaian tersebut dapat terjadi saat berlangsungnya proses pembelajaran berupa penilaian proses dan di akhir proses pembelajaran disebut penilaian hasil.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa penilaian adalah suatu proses pengumpulan informasi tentang proses dan hasil belajar peserta didik terhadap kompetensi yang telah diajarkan berdasarkan kriteria tertentu.
b. Fungsi dan Tujuan Penilaian
Penilaian memegang peranan yang sangat penting dalam proses pembelajaran. Karena untuk mengetahui keberhasilan dari proses pembelajaran harus diukur dengan pengadakan penilaian. Fungsi penilaian menurut Ngalim (2004:5) adalah: (1) untuk mengetahui kemajuan dan perkembangan serta keberhasilan peserta didik dalam proses pembelajaran, (2) untuk mengetahui tingkat keberhasilan program pengajaran, (3) untuk keperluan bimbingan dan konseling. Hal ini diiakukan terhadap peserta didik yang memiliki kemampuan rendah, (4) untuk keperluan perbaikan kurikulum. Sedangkan menurut Saleh (2006:59) fungsi penilain adalah untuk memberikan umpan balik proses pembelajaran, meningkatkan motivasi belajar peserta didik, dan memberikan laporan kemajuan belajar peserta didik. Dari pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa fungsi penilaian untuk meningkatkan proses pembelajaran, untuk memotivasi peserta didik. penilaian berfungsi sebagai motivasi bagi peserta didik untuk memperoleh prestasi yang lebih tinggi.
Penilaian memiliki tujuan yang sangat penting dalam pembelajaran. Menurut Akhmad (2008:2) “Tujuan penilaian yaitu untuk grading, seleksi, mengetahui tingkat penguasaan kompetensi, bimbingan, diagnosis, dan prediksi”. Untuk lebih jelasnya akan diuraikan sebagai berikut :
1) Sebagai grading, penilaian ditujukan untuk menentukan atau membedakan kedudukan hasil kerja peserta didik dibandingkan dengan peserta didik lain. Penilaian ini akan menunjukkan kedudukan peserta didik dalam urutan dibandingkan dengan anak yang lain. Karena itu, fungsi penilaian untuk grading ini cenderung membandingkan anak dengan anak yang lain sehingga lebih mengacu kepada penilaian acuan norma (norm-referenced assessment).
2) Sebagai alat seleksi, penilaian ditujukan untuk memisahkan antara peserta didik yang masuk dalam kategori tertentu dan yang tidak. Peserta didik yang boleh masuk sekolah tertentu atau yang tidak boleh. Dalam hal ini, fungsi penilaian untuk menentukan seseorang dapat masuk atau tidak di sekolah tertentu.
3) Untuk menggambarkan sejauh mana seorang peserta didik telah menguasai kompetensi.
4) Sebagai bimbingan, penilaian bertujuan untuk mengevaluasi hasil belajar peserta didik dalam rangka membantu peserta didik memahami dirinya, membuat keputusan tentang langkah berikutnya, baik untuk pemilihan program, pengembangan kepribadian maupun untuk penjurusan.
5) Sebagai alat diagnosis, penilaian bertujuan menunjukkan kesulitan belajar yang dialami peserta didik dan kemungkinan prestasi yang bisa dikembangkan. Ini akan membantu guru menentukan apakah seseorang perlu remidiasi atau pengayaan.
6) Sebagai alat prediksi, penilaian bertujuan untuk mendapatkai informasi yang dapat memprediksi bagaimana kinerja peserta didik pada jenjang pendidikan berikutnya atau dalam pekerjaan yang sesuai. Contoh dari penilaian ini adalah tes bakat skolastik atau tes potensi akademik.
Lebih lanjut Saleh (2006:146) mengemukakan tujuan dari penulisan adalah: (1) memantau pertumbuhan dan perkembangan kemampuan peserta didik, (2) untuk mengetahui tingkat pencapaian kompetensi peserta didik, (3) mendiagnosis kesulitan belajar peserta didik, (4) mengetahui hasil pembelajaran yang telah dilaksanakan.
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulakn bahwa tujuan dari penilaian adalah untuk mengetahui tingkat kompetensi yang telah tercapai, untuk mendiagnisis kesulitan belajar peserta didik, dan untuk penentuan kenaikan kelas.
Dari beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa fungsi dan tujuan penilain tidak dapat dipisahkan. Karena antara fungsi dan tujuan penilaian tersebut saling berkaitan yaitu sama untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik ke arah yang lebih baik sehingga dapat menghasilkan peserta didik yang memiliki kecerdasan yang tinggi yang mencakap tiga ranah yaitu kognitif, afektif dan psikomotor.
c. Jenis-Jenis Penilaian
Menurut Nana (2004:5), jenis penilaian menurut fungsinya dibedakan menjadi lima macam yaitu, penilaian formatif, penilaian sumatif, penilaian diagnostik, penilaian selektif dan penilaian penempatan. Untuk lebih jelasnya diuraikan sebagai berikut: (1) penilaian formatif, adalah penilaian yang dilaksanakan pada akhir program pembelajaran untuk melihat tingkat keberhasilan proses pembelajaran. (2) penilaian sumatif, adalah penilaian yang dilaksanakan pada akhir unit program yaitu akhir semester dan akhir tahun. Tujuannya untuk melihat seberapa jauh tujuan kurikulum yang telah tercapai. (3) penilaian diagnostik, adalah penilaian yang bertujuan untuk melihat kelemahan-kelemahan peserta didik serta faktor peneyebabnya. Penilaian ini dilaksanakan untuk mengatasi kesulitan belajar peserta didik. (4) penilaian selektif, adalah penilaian yang bertujuan untuk keperluan seleksi, misalnya ujian masuk ke lembaga pendidikan tertentu. (5) penilaian penempatan, adalah penilaian yang dirujukan untuk mengetahui keterampilan pra syarat yang diperlukan.
Tuhusetya (2007:5) mengemukakan bahwa jenis penilaian terbagi dua yaitu: penilaian proses dan penilaian hasil. Penilaian proses digunakan dalam lembar penilaian sikap (efektif), dan penilaian hasil yaitu berupa hasil karangan peserta didik.
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa jenis penilain dapat dibedakan menurut fungsinya, prosesnya dan alat yang digunakan dalam melakakan penilaian.
d. Ruang Lingkup Penilaian
Ruang lingkup dari penilaian hasil belajar peserta didik menurut Akhmad (2008:3) dapat diklasifikasi ke dalam tiga ranah (domain), yaitu: “(1) domain kognitif (pengetahuan atau yang mencakup kecerdasan bahasa dan kecerdasan logika - matematika), (2) domain afektif (sikap dan nilai atau yang mencakup kecerdasan antarpribadi dan kecerdasan intrapribadi, dengan kata lain kecerdasan emosional), dan (3) domain psikomotor (keterampilan atau yang mencakup kecerdasan kinestetik, kecerdasan visual-spasial, dan kecerdasan musikal)”. Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa ruang lingkup penilaian yaitu mencakup tiga ranah penilaian yaitu: kognitif, efektif dan psikomotor. Ketiga ranah penilaian tersebut memegang peranan yang sangat penting dalam menilai peserta didik. Penilaian kognitif adalah penilaian tentang pengetahuan yang dimiliki peserta didik. Penilaian efektif yaitu penilaian sikap peserta didk setelah menerima pelajaran yang dilaksanakan seperti aklak dan budi pekerti peserta didik itu sendiri. sedangkan penilaian psikomotor adalah penilaian keterampialn yang dimiliki peserta didik yang bermanfaat bagi kelangsungan hidupnya dalam bermasyarakat nantinya.


e. Prinsip Penilaian
Penilaian yang dilaksanakan harus terarah. Agar penilaian tersebut terarah maka penilaian harus mematuhi prinsip-prinsip penilaian. Prinsip-prinsip penilaian menurut Saleh (2006:146) sebagai berikut:
1) Berorentasi pada kompetensi, pemilihan cara dan bentuk penilaian berdasarkan atas tuntutan kompetensi.
2) Valid (sahih) dan handal
Valid (sahih) berarti soal atau tugas yang dikerjakan peserta didik harus sesuai dengan kompetensi yang ingin dinilai. Misalnya bila ingin menilai kompetensi menulis karangan maka penilaian tentang kerapian tulisan atau tentang bahasa yang digunakan. Handal berarti hasil penilaian dapat menggambarkan kompetensi peserta didik yang sebenarnya. Hasil penilaian terhadap seseorang/ sekelompok orang akan sama walaupun dilakukan oleh penilai yang berbeda. Oleh karena itu penilaian harus dilakukan oleh orang yang kompeten, dengan alat ukur yang sahih dan andal, sehingga hasil pengukurannya memberikan data yang akurat.
3) Mendidik, penilaian harus memberi sumbangan positif terhadap pencapaian hasil belajar peserta didik. Penilaian dirasakan sebagai penghargaan yang dapat memotivasi peserta didik untuk meningkatkan hasil belajar mereka.
4) Adil dan objektif
Penilaian harus adil untuk semua peserta didik. Artinya penilaian tidak menguntungkan atau merugikan salah satu atau sekelompok peserta didik yang dinilai.
5) Terbuka
Prosedur penilaian, kriteria penilaian, dan dasar pengambilan keputusan harus jelas dan terbuka bagi semua pihak.
6) Menyeluruh
Penilaian dilakukan dengan berbagai teknik dan prosedur termasuk pengumpulan berbagai bukti hasil belajar peserta didik untuk dapat menilai aspek pengetahuan, keterampilan dan sikap.
7) Berkesinambungan/ Berkelanjutan
Penilaian dilakukan secara berencana, bertahap, dan terus menerus untuk memperoleh gambaran tentang perkembangan hasil belajar peserta didik sebagai hasil kegiatan belajarnya.
8) Bermakna
Hasil penilaian harus mudah dipahami dan ditafsirkan sama oleh semua pihak yang berkepentingan agar dapat menghasilkan tindak lanjut yang tepat.
Jadi berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa dalam penilaian harus mengtahui prinsip-prinsip penilaian yang telah ditetapkan. hal ini bermanfaat agar penilaian yang dilaksanakan dengan baik dan hasil dari penulain tersebut dapat memperbaiki hasil belajar peserta didik sehingga tujuan pendidikan dapat tercapai sebagaimana mestinya.
BAB III
METODE PENELITIAN

A. Lokasi Penelitian
1. Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri 17 Air Dingin, Kecamatan Lembah Segar Kota Sawahlunto. Karena penelitian kooperatif model STAD belum pernah dilakukan di SD Negeri 17 Air Dingin, Kecamatan Lembah Segar Kota Sawahlunto.
2. Subjek Penelitian
Penelitian tindakan kelas ini akan dilakukan pada siswa kelas V SD Negeri 17 Air Dingin, Kecamatan Lembah Segar kota Sawahlunto dengan jumlah siswanya 15 orang, 5 orang laki-laki dan 5 orang perempuan.
Adapun yang terlibat dalam penelitian ini adalah :
a. Peneliti sebagai guru mata pelajaran matematika SD Negeri 17 Air Dingin, Kecamatan Lembah Segar kota Sawahlunto.
b. Dua orang pengamat yaitu teman sejawat dan guru kelas yang bersangkutan.
3. Waktu / Lama Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan pada semester dua tahun ajaran 2008/2009 di kelas V SD Negeri 17 Air Dingin, Kecamatan Lembah Segar. Pelaksanaan siklus I dua kali pertemuan, Siklus I dilaksanakan 2 (dua) kali pertemuan yaitu pada hari Rabu dan Kamis, tanggal 20 dan 21 Mei 2009 mulai pukul 7.30 wib – 9.30 wib. Pembelajaran untuk siklus I berlangsung selama 105 menit, yang dihadiri oleh 15 siswa. Siklus II dua kali pertemuan, Siklus II dilaksanakan pada hari Rabu dan kamis, 27 dan 28 Mei 2008 pukul 7.30 - 8.40 WIB. Pembelajaran pada siklus II berlangsung 105 menit atau 3 jam pembelajaran.
B. Rancangan Penelitian
1. Pendekatan dan Jenis Penelitian
Bentuk penelitian yang peneliti lakukan adalah penelitian tindakan kelas dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Pendekatan ini berkenaan dengan perbaikan atau peningkatan proses pembelajaran pada suatu kelas. Pendekatan kualitatif digunakan karena suatu prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan serta perilaku yang diamati dari orang-orang atau sumber informasi (Bogdar dan Taylor, 1992:21)
Jenis penelitian yang dilakukan merupakan penelitian tindakan kelas (action research) dibidang pendidikan dan pengajaran matematika, dalam penelitian tindakan kelas diadakan perlakuan tertentu yang didasarkan pada masalah-masalah aktual yang ditemukan di lapangan. Penelitian ini berkenaan dengan perbaikan atau peningkatan proses pembelajaran matematika pada suatu kelas.
Oleh sebab itu sesuai dengan penelitian tindakan kelas yang dilakukan, maka masalah yang harus dipecahkan berasal dari persoalan praktik pembelajaran di kelas secara lebih profesional. Prosedur pelaksanaan penelitian ini mengikuti prinsip-prinsip dasar penelitian tindakan yang umum. Penelitian ini berkenaan dengan perbaikan atau peningkatan proses pembelajaran pada suatu kelas.
Menurut Kemmis dan Me Taggart (dalam Ritawati, 2007:27) proses penelitian tindakan merupakan proses daur atau siklus yag dimulai dari aspek : mengembangkan perencanaan, melakukan tindakan sesuai rencana, melakukan observasi terhadap tindakan, dan melakukan refleksi yaitu perenungan terhadap perencanaan, kegiatan tindakan dan kesuksesan hasil yang di peroleh. Sesuai dengan prinsip umum penelitan tindakan dilaksanakan secara bertahap, setiap tahapan dan siklusnya selalu secara partisipatoris dan kolaboratif antara peneliti dan praktisi.
2. Alur
Penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan menggunakan model siklus yang dikembangkan oleh Kemmis ( dalam Ritawati, 2007:21). Model siklus ini mempunyai empat komponen yaitu perencanaan, tindakan, pengamatan dan refleksi. Penelitian ini direncanakan 2 siklus. Satu siklus berisi tujuh tahap, dan pada setiap akhir siklus dilakukan tes akhir tindakan. Pada setiap pertemuan dilakukan pengamatan terhadap aktifitas siswa dan guru selama proses belajar mengajar yaitu selama 2 x 35 menit, setelah akhir setiap siklus dilakukan tes hasil belajar.

3. Prosedur Penelitian
a. Studi Pendahuluan / Refleksi Awal
Peneliti melakukan studi pendahuluan berupa observasi awal terhadap pembelajaran menjumlahkan pecahan campuran kelas V Sekolah Dasar terteliti. Hal ini dilakukan untuk mengetahui permasalahan yang dihadapi guru dan siswa berkaitan dengan pembelajaran menjumlahkan pecahan campuran di kelas V Sekolah Dasar.
Studi pendahuluan dilakukan dengan mengamati proses belajar mengajar menjumlahkan pecahan campuran yang sudah dilakukan selama ini. Dari hasil, studi pendahuluan diidentifikasi masalah pembelajaran menjumlahkan berbgai bentuk pecahan dilakukan di kelas V Sekolah Dasar terteliti. Setelah diidentifikasi, diadakan diskusi dan negosiasi antara peneliti dan guru kelas V.
Peneliti dan guru merumuskan permasalahan yang akan diangkat sebagai permasalahan penelitian, bagaimana bentuk Rencana Pelaksanaa Pembelajaran, bagaimana melaksanakan pembelajaran menjumlahkan berbagai bentuk pacahan yang meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, refleksi dan observasi dan menilai kembali serta hasil dari pembelajaran. Semua tahap ini dipadukan dengan komponen pembelajaran kooperatif model STAD.
b. Penyusunan Rancangan Tindakan / Perencanaan
Sesuai dengan rumusan masalah hasil studi pendahuluan, peneliti membuat rencana tindakan yang dilakukan. Tindakan itu berupa pembelajaran menjumlahkan pecahan campuran. Kegiatan itu dimulai dengan merumuskan rancangan tindakan pembelajaran pemecahan masalah yang kontekstual, yaitu dengan kegiatan sebagai berikut:
1) Menetapkan jadwal selama penelitian
2) Menyusun rancangan tindakan berupa model pembelajaran. Hal ini meliputi tujuan pembelajaran, memilih dan menetapkan materi, kegiatan belajar mengajar, memilih dan menetapkan media / sumber belajar serta evaluasi.
3) Mengkaji kurikulum dan GBPP, buku paket kelas V dan buku matematika lainya dengan materi menjumlahkan pecahan campuran.
4) Menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) untuk soal pecahan dengan materi menjumlahkan pecahan campuran. Menyusun rancangan dalam bentuk RPP, meliputi (a) standar kompetensi, (b) kompetensi dasar, (c) Indikator, (d) materi mengenai menjumlahkan pecahan campuran, (e) Metode pembelajaran, (f) langkah-langkah pembelajaran, (g) alat dan summer, (h) penilaian, (i) intrumen.
5) Menyusun LKS
6) Membuat soal yang akan dipergunakan dalam pembelajaran
7) Menyusun lembaran observasi untuk mencatat aktifitas siswa.
8) Mendiskusikan dengan guru kelas tentang tata cara pengumpulan data dalam pelakasanaan observasi saat kegiatan dilakukan, agar tidak terjadi peyimpangan dalam pengambilan data.
9) Menyamakan persepsi guru dan peneliti tentang bagaimana pembelajaran matematika dengan menggunakan metode STAD.
10) Menyusun format rambu-rambu karakteristik peningkatan hasil belajar siswa dalam pengerjaan menjumlahkan pecahan campuran melalui pendekatan kooperatif model STAD.
Setelah melakukan kegiatan di atas, kegiatan selanjutnya adalah menyusun lembar observasi. Lembar observasi ini berguna untuk mengetahui apakah pembelajaran yang dilakukan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan. Dan untuk mengetahui apa saja kekurangan yang perlu di perbaiki untuk pembelajaran selanjutnya.
c. Pelakasanaann Tindakan
Sebelum melakukan penelitian kegitan ini dimulai dengan menentukan jadwal penelitian. Dimana sebelumnya peneliti meminta persetujuan Kepala sekolah dan guru kelas untuk melakukan penelitian.
Tahap ini dimulai dari pelaksanaan pembelajaran menjumlahkan pecahan campuran sesuai dengan rencana. Penelitian ini direncanakan dalam dua siklus. Setiap siklus dilaksanakan dua kali pertemuan sesuai dengan rencana pembelajaran yang telah disusun. Kegiatan dilakukan oleh peneliti sebagai guru praktisi dan guru kelas sebagai observer didampingi teman sejawat. Praktisi melakukan kegiatan pembelajaran di kelas berupa kegiatan interaksi antara guru dan siswa, dan antara siswa dengan siswa.
Kegiatan yang dilakukan antara lain:
a) Peneliti sebagai guru praktisi melaksanakan pembelajaran menjumlahkan berbagai bentuk pecahan sesuai dengan rancangan pembelajaran yang dibuat.
b) Observer melakukan pengamatan dengan menggunakan format observasi dan format catatan lapangan.
c) Peneliti dan guru melakukan diskusi terhadap tindakan yang dilakukan, kemudian melakukan refleksi. Hasilnya dimanfaatkan untuk perbaikan atau penyempurnaan selanjutnya.
Tahap pelaksanaan tindakan ini dilakukan dalam dua siklus. Fokus tindakan pada setiap siklus berupa penerapan pembelajaran menjumlahkan pecahan campuran dengan mengikuti langkah-langkah menjumlahkan pecahan dan dikombinasikan dengan kooperatif model STAD.
d. Pengamatan.
Pengamatan terhadap tindakan pembelajaran menjumlahkan pecahan campuran dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan tindakan. Hal ini dilakukan secara intensif, objektif, dan sistematis. Pengamatan dilakukan oleh observer pada waktu guru praktisi melaksanakan tindakan pembelajaran membandingkan pecahan biasa.
Dalam kegiatan ini peneliti dan pengamat berusaha mengenal dan mendokumentasikan semua indikator dari proses hasil perubahan yang terjadi, baik yang disebabkan oleh tindakan terencana maupun dampak intervensi dalam pembelajaran menjumlahkan pecahan campuran. Keseluruhan hasil pengamatan dalam bentuk lembaran observasi.
Pengamatan dilakukan secara terus menerus mulai dari siklus I sampai dengan siklus II. Pengamatan yang dilakukan pada satu siklus dapat mempengaruhi penyusunan tindakan pada siklus selanjutnya. Hasil pengamatan ini kemudian didiskusikan dengan guru dan diadakan refleksi untuk perencanaan siklus berikutnya.
Kegiatan observasi dilakukan oleh peneliti dan guru untuk megamati aktivitas siswa selama proses belajar mengajar, aktivitas siswa tersebut dicatat pada lembaran observasi oleh obsever. Kegiatan observasi untuk masing-masing siklus dilakukan sebanyak satu kali pertemuan.
e. Refleksi
Sedangkan refleksi merupakan rangkaian kegiatan yang meliputi kegiatan analisis, sintesis, memaknai, menerangkan dan akhirnya menyimpulkan pembelajaran. Hasil refleksi ini dimanfaatkan untuk tindakan perbaikan berikutnya. Adapun yang direfleksi sebagai berikut: aktivitas siswa, aktivitas guru.
Refleksi diadakan setiap satu kali tindakan berakhir. Dalam tahap ini peneliti dan observer mengadakan diskusi terhadap tindakan yang baru dilakukan. Hal-hal yang akan didiskusikan adalah menganalisa tindakan yang baru dilaksanakan, mengulas dan menjelaskan perbedaan rencana dan pelaksanaan tindakan yang telah dilakukan, serta melakukan intervensi, pemaknaan, dan penyimpulan data yang diperoleh. Pada kegiatan ini peniliti dan guru mengamati lembaran observasi yang telah dilakukan. Serta melakukan diskusi tentang kelebihan dan kekurangan yang terdapat pada pembelajaran yang telah dilakukan. Apabila terdapat kekurangan maka dilakukan perbaikan terhadap kegiatan pembelajaran berikutnya. Refleksi peneliti dan guru didiskusikan, pelaksanaan pembelajaran yang telah dilakukan berdasarkan hasil pengamatan selama pembelajaran berlangsung meliputi: 1) Kesesuaian antara pelaksanaan dengan rencana pembelajaran yang telah dibuat. Kalau pelaksanaan pembelajaran belum sesui dengan yang direncanakan peneliti akan memperbaikinya pada siklus berikutnya. 2) Kekurangan yang terjadi selama proses pembelajaran. Kekurangan-kekurangan yang terjadi selama proses pembelajaran akan diperbaiki dalam proses pembelajaran siklus berikutnya. 3) Kemajuan yang di capai siswa, apabila ada kemajuan dalam proses pembelajaran berarti sudah ada peningkatan selama proses pembelajaran. 4) Rencana pembelajaran selanjutnya, kalau pelaksanaan sembelajaran tidak sesuai dengan lembaran observasi akan diperbaiki 3 ada pembelajaran berikutnya. Apabila sudah sesuai dengan lembaran observasi dan hasil sudah memenuhi kriteria yang diinginkan maka pembelajaran dicukupkan, tidak melanjutkan pada siklus berikutnya.
Hasil refleksi bersama ini dimanfaatkan sebagai masukan pada tindakan selanjutnya. Selain itu, hasil kegiatan refleksi setiap tindakan digunakan untuk menyusun simpulan terhadap hasil tindakan I.
Hasil kegiatan observasi dikelas oleh obsever di evaluasi setelah proses pembelajaran berlangsung. Kelemahan-kelemahan dan kendala yang ditemukan perlu diperbaiki pada siklus II dan kekuatan yang ada di rekomendasikan pada silkus II. Berdasarkan pada kelemahan-kelemahan yang ditemukan pada siklus I disusun kembali perencanaan untuk siklus II.


C. Data dan Sumber Data
1. Data Penelitian
Data penelitian ini berupa hasil pengamatan, wawancara dari pembelajaran, data dalam penelitian ini berupa data kualitatif dan data kuantitatif. Data kualitatif berupa pengamatan, wawancara tentang hasil belajar dari menjumlahkan berbagai bentuk peahan-dengan penerapan kooperatif model STAD pada siswa kelas V SD SD Negeri 17 Air Dingin, data kualitatif tersebut berkaitan dengan perencanaan, pelaksanaan dan hasil pembelajaran yang berupa informasi sebagai berikut:
a. Pelaksanaan pembelajaran yang berhubungan dengan prilaku guru dan siswa yang meliputi interaksi belajar mengajar antara siswa dan guru, siswa dan siswa, dalam pembelajaran membandingkan pecahan biasa.
b. Evaluasi pembelajaran pecahan yang berupa evaluasi proses dan evaluasi hasil.
c. Hasil tes siswa baik sebelum, maupun sesudah pelaksanaan tindakan pembelajaran membandingkan pecahan biasa.
Sedangkan data kuantitatif berupa hasil tes siswa yang dilakukan pada akhir pembelajaran.
2. Sumber data
Sumber data penelitian adalah proses kegiatan belajar mengajar tentang membandingkan pecahan biasa dengan menerapkan kooperatif model STAD meliputi : perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran yang terdiri dari kegiatan menyampaikan tujuan pembelajaran, menyajikan informasi, mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok belajar, melakukan diskusi terhadap materi atau topik, evaluasi dan pemberian penghargaan, perilaku guru dan siswa sewaktu proses pembelajaran, serta evaluasi pembelajaran.
Data diperoleh dari subjek terteliti yakni siswa kelas V SD Negeri 17 Air Dingin, Kecamatan Lembah Segar dan guru kelas V.

D. Instrumen Penelitian
Insrumen-instrumen penelitian pengumpuklan data, teknik yang dilakukan untuk mengumpulkan data adalah teknik pencatatan lapangnan, observasi dan evaluasi. Untuk masing-masingnya diuraikan sebagaimana berikut ini:
1. Pencatatan Lapangan
Berupa paparan tentang data pengamatan terhadap praktisi suatu pembelajaran membandingkan pecahan biasa. Unsur-unsur yang diamat dalam pelakasanaan tertera dalam lembaran observasi.
2. Lembaran Observasi
Dilakukan untuk mengamati latar kelas tempat berlangsungnya pembelajaran membandingkan pecahan biasa berpenyebut sama. Dengan berpedoman pada lembaran observasi peneliti mengamati apa yang terjadi selama proses pembelajaran. Unsur-unsur yang menjadi sasaran pengamatan dalam proses pembelajaran ditandai dengan memeberikan ceklis di kolom yang ada pada lembaran observasi.
3. Tes
Digunakan untuk memperkuat data obsevasi yang terjadi dalam kelas terutama pada butir penguasaan materi pembelajaran dari unsur siswa.
E. Analisis Data
Data yang diperoleh dalam penelitian dianalisis dengan menggunakan Model Analisis Data Kualitatif yang ditawarkan oleh Miles dan Huberman (1992 : 18) yakni analisis data dimulai dengan menelaah sejak mulai pengumpulan data sampai seluruh data terkumpul. Data tersebut direduksi berdasarkan masalah yang diteliti, di ikuti penyajian data dan terakhir penyimpulan atau verifikasi. Tahap analisis yang demikian dilakukan berulang-ulang begitu data selesai dikumpulkan pada setiap tahap pengumpulan data dalam setiap tindakan. Tahap analisis diuraikan sebagai berikut ini:
1. Akan menelaah data yang telah terkumpul baik melalui observasi, pencatatan dengan melakukan proses transkripsi hasil pengamatan, penyeleksian dan pemilihan data. Seperti mengelompokkan data pada siklus saru, siklus dua, dan seterusnya. Kegiatan menelaah data dilaksanakan sejak awal data dikumpulkan.
2. Reduksi data meliputi pengkategorian dan pengklasifikasian. Semua data yang akan terkumpul diseleksi dan dikelompok-kelompokan sesuai dengan fokus. Data yang telah dipisah-pisahkan tersebut lalu diseleksi mana yang relevan dan mana yang tidak relevan. Data yang relevan di analisis, dan tidak relevan di buang.
3. Akan menyajikan data dilakukan dengan cara mengorganisasikan informasi yang sudah di reduksi. Data tersebut mula-mula disajikan terpisah, tetapi setelah tindakan terakhir direduksi, keseluruhan data tindakan dirangkum dan disajikan secara terpadu sehingga diperoleh sajian tunggal berdasarkan focus pembelajaran membandingkan pecahan biasa.
4. Menyimpulkan hasil penelitian dan triangulasi. Kegiatan ini merupakan penyimpulan akhir temuan penelitian, diikuti dengan kegiatan triangulasi atau pengujian temuan penelitian. Kegiatan triangulasi dilakukan dengan cara: (a)peninjauan kembali catatan lapangan, dan (b) bertukar pikiran dengan ahli, teman sejawat, dan guru.
Analisis data dilakukan terhadap data yang telah direduksi baik data perencanaan, pelaksanaan, maupun data evaluasi. Analisis data dilakukan dengan cara terpisah-pisah. Hal ini dimaksudkan agar dapat ditemukan berbagai informasi yang spesifik dan terfokus pada berbagai informasi yang mendukung pembelajaran dan yang menghambat pembelajaran. Dengan demikian pengembangan dan perbaikan atas berbagai kekurangan dapat dilakukan tepat pada aspek yang bersangkutan.
Sedangkan model analisi data kuantitatif yaitu terhadap hasil belajar siswa dengan menggunakan pendekatan persentase dengan rumus sebagai berikut:
P = F x 100%
N
Keterangan:
P = PersentaseN = Jumlah responden
F = Frekuensi responden
Adapun kriteria keberhasilan setiap tindakan adalah sebagai berikut:
1. Hasil observasi guru dan siswa telah menunjukan bahwa dalam pelaksanaan pembelajaran sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan atau mencapai persentase skor rata-rata 75%
2. Hasil LKS telah menunjukan bahwa dua pertiga dari lima kelompok telah memecahkan masalah dengan baik
3. Hasil tes akhir dari semiia subjek memperoleh skor lebih dari atau sama dengan 75%
4. Hasil wavvancara telah memeberikan informasi bahwa siswa senang dalam mengikuti pembelajaran.
Berdasarkan kriteria keberhasilan tersebut, maka di tetapkan bahwa penelitian ini terdiri dari satu tindakan dengan dua siklus. Apabila sudah berhasil pada siklus II peneliti mencukupkan sampai siklus II dan tidak melanjutkan pada siklus III, karena sudah mencapai persentase skor rata-rata yang diinginkan.
Untuk lebih jelasnya dilanjutkan pada BAB berikutnya.














DAFTAR RUJUKAN

DEPDIKNAS. (2006). Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Jakarta: DEPDIKNAS.
Etin Solihatin, (2005). Cooperatif Learning Analisis Model Pembelajaran IPS. Jakarta: Bumi Aksara.
Masniladevi. (2003). Keefektifan belajar Kooperatif Model STAD Pada Penjumlahan Pecahan Di Kelas IV SD .Tesis. tidak diduplikasikan. Universitas Malang.
Martianti, Nalole. (2004).Meningkatkan Pemahaman Konsep Dim Pecahan. Tesis. Tidak diduplikasikan.
Nurasma. (2006). Model Pembelajaran Kooperatif. Padang: DEPDIKNAS
Ritawati Mahyudin, Yetti Ariani. (2007). Hand Out Metodologi Penelitian Tindakan Kelas. Padang: FIP UNP.
Sutrisni, 2007. Model-model, (http: Garupkn. Wordpres. Com /2007 /11 /13 /27. Metode Jigsaw.
Susanto, 2007. Pengembangan KTSP Dengan Perspektif Manajemen Visi. Jakarta Mata Pena
Trianto. (2007). Model Pembelajaran Inovatif Beroriantasi Kontruktivisme. Jakarta : Prestasi Pustaka Publiser
Wina Sanjaya. (2007). Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana.
Yusuf. (2003).Kualitas Proses dan hasil Belajar Biologi Melalaui Pengajaran Dengan pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw. Disertasi tidak diduplikasikan. Surabaya; Universitas Negeri Surabaya http://gurupkn.wordpress.com/2007/l l/13/27metode-jigsaw/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar